Tegal – Jateng, targetjunalis.id
26/07/2025
Di saat banyak pejabat memilih bersembunyi di balik meja dan data statistik, Bupati Tegal H. Ischak Maulana Rohman, S.H., justru memilih langkah berbeda: turun langsung ke tengah-tengah masyarakat, menembus medan masalah, dan menyerap suara rakyat dari jarak paling dekat. Kunjungan mendadak beliau ke Desa Danawarih Kec. Balapulang, wilayah yang kini terdampak pembangunan proyek bendungan, menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keberanian mendengar sebelum bertindak.
Didampingi Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Tegal, Dirjen Ketahan Pangan dr Kementrian Pertanian, Camat Lebaksiu, Camat Balapulang, serta unsur teknis lainnya, Bupati Ischak hadir bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memutus rantai ketidakpastian yang dirasakan warga. Proyek bendungan yang semestinya menjadi solusi jangka panjang justru membawa efek jangka pendek yang tak bisa diabaikan: krisis air bersih bagi warga dan kelangkaan air irigasi yang membuat para petani nyaris lumpuh.

Dalam keterangannya di lokasi, Bupati mengungkapkan bahwa dirinya banyak mendengar langsung keluhan dan aduan para petani serta warga yang selama ini hanya bersuara di ruang-ruang kecil tanpa jangkauan kebijakan. Bupati tidak datang membawa janji, melainkan membawa ruang dialog dan harapan.
“Kita tidak ingin proyek strategis berubah menjadi beban sosial. Kita ingin pembangunan menjadi milik bersama, bukan sesuatu yang meninggalkan luka,” ujar Bupati dengan nada tenang namun mengandung ketegasan arah kepemimpinan.
Respons cepat ini memperlihatkan satu hal penting: Bupati tidak menunggu masalah membesar. Ia hadir saat suara masyarakat masih mungkin ditenangkan dengan solusi, bukan dibungkam dengan formalitas.
Tak berhenti pada mendengar, Bupati pun langsung menegaskan perlunya evaluasi teknis oleh pihak pelaksana proyek. Instruksi untuk memastikan ketersediaan air bersih dan pengamanan irigasi pertanian disampaikan secara lugas. Ia tahu bahwa bagi petani, keringnya air berarti matinya musim tanam — dan bagi warga, hilangnya sumber air berarti ancaman nyata terhadap kehidupan sehari-hari.
Sosok pegiat kebijakan publik, Ree_ dari LSM Gerhana Indonesia DPD Jateng, yang kebetulan terlihat di lokasi tersebut, menyampaikan apresiasi mendalam dengan nada yang tajam dan kritis. Menurutnya, langkah cepat Bupati Tegal bukan hanya pantas diapresiasi, tetapi juga mencerminkan kelas kepemimpinan yang berani menembus sekat birokrasi dan turun langsung di tengah masyarakat yang gelisah.
“Ini bukan kunjungan basa-basi. Ini langkah pemimpin yang berani menjemput masalah sebelum ia jadi bencana. Bupati Tegal tidak sedang membuat panggung, ia sedang memulihkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah,” ujar Ms Ree_ dengan nada penuh hormat namun kritis.
Ia menegaskan, sangat jarang ada kepala daerah yang memilih berdiri di tengah warga yang kecewa — mendengar amarah dan keluhan — tanpa proteksi birokrasi dan tanpa script politik. Namun di Danawarih, hari itu, semua itu terjadi.
“Saya pribadi menyaksikan langsung: seorang kepala daerah berdiri di bawah panas matahari, mendengar petani yang gelisah, dan merespons dengan kejelasan langkah. Ini bukan pencitraan — ini keberanian. Dan keberanian seperti inilah yang seharusnya dimiliki semua pemimpin daerah,” tegas Ree_.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa proyek strategis daerah tak bisa berjalan seperti mesin tanpa suara. Pembangunan harus berdialog dengan masyarakat, dan keadilan harus menjadi fondasinya. Jika tidak, maka keberhasilan fisik akan dibayar mahal dengan kegelisahan sosial.
Langkah Bupati Ischak pun menjadi cermin dari kepemimpinan berkarakter: hadir tanpa menakutkan, tegas tanpa membentak, dan berpihak tanpa harus membelah. Ia memperlihatkan bahwa pemerintah bukan hanya entitas pengatur, melainkan pelindung dan penyembuh ketika masyarakat mulai goyah.
Kabupaten Tegal patut bangga memiliki sosok pemimpin yang tak sekadar membangun jembatan dan jalan, tapi juga menjaga urat nadi kepercayaan rakyatnya. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang kepala daerah tidak diukur dari seberapa besar proyek yang diresmikan, melainkan seberapa kuat ia menjaga rakyatnya agar tidak terpinggirkan oleh proyek itu sendiri.
Korwil jateng






