Ada Apa Dengan Polrestabes Medan, Tahanan Kok Bisa Mati Mendadak Tanpa Pemberitahuan ??

- Penulis

Sabtu, 28 Desember 2024 - 10:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN-TARGETJURNALIS.ID|

Almarhum Budianto Sitepu ditemukan istri di bangsal jenazah RS Bhayangkara, pada Kamis (26/12/2024).

Jenazah Budianto baru diketahui setelah dua hari ditangkap oknum Polisi Polrestabes Medan.
Dumaria Simangunsong istri korban mengatakan, suaminya sama sekali tidak ada melakukan tindakan pidana, hingga harus berurusan dengan oknum Polrestabes Medan.

Tidak ada laporan sama sekali yang diterima bahwa suaminya melanggar hukum.
Dumaria mengaku, terakhir kali dia tahu bila suaminya berada di sel tahanan Polrestabes Medan, usai cekcok dengan oknum polisi Selasa (24/12), dan dibawa pada Rabu (25/12/2024) dini hari.

Budianto merupakan warga, Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Dumaria mengatakan, penangkapan bermula saat suaminya minum-minum diiringi musik dengan kuat, berujung cekcok.
“Setahu saya, karena saya tak ikut, awalnya mereka buat acara minum minum pada tanggal 24 Desember malam. Karena mereka musik-musikan sampai malam, terganggulah masyarakat di situ,” kata Dumaria.

Saat itu, oknum polisi mendatangi Budianto yang saat itu bersama sejumlah rekannya. Dumaria mengatakan sempat terjadi perdebatan antara suaminya dan polisi
Ketiga orang yang diamankan antara lain Budianto, Dedy Pasaribu dan Girin. Hingga saat ini hanya Budianto yang diketahui keberadaannya.

“Sekitar 23.00 WIB malam lah kejadian itu. Cuman saya tahu jam 1 malam (Rabu 25/12/2024) suami saya sudah ditangkap. Sebenarnya gara-gara ributnya, dipengaruhi minuman keras. Jadi saya tahu suami saya ditangkap dari anggota dan kawan-kawannya,” katanya.

Kata Dumaria, seandainya suaminya melanggar hukum, seharusnya ada surat pemberitahuan ke pihak keluarga. Artinya penangkapan Budianto diduga tanpa surat tugas, legal secara hukum.

“Dari polisi enggak ada (diberitahu),” ungkapnya.

Kasus kemarin Budianto diduga sengaja ditutup-tutupi.

Dumaria beberapa kaki memelas dan memohon ke polisi untuk bertemu Dengan suaminya di tahanan, namun polisi tak memberikan izin.

Surat pun tak diberikan polisi kepada Dumaria tentang penangkapan sang suami. Sehari setelah penangkapan, Dumaria mendatangi Polrestabes Medan namun dia tak berhasil menemui sang suami.

Pada Kamis (26/12/2024) dia kembali ke Polrestabes Medan. Namun lagi lagi polisi tak memberikan izin.

“Sampai meninggal begini pun berita dari polisi tidak ada. Saya tahunya karena saya dapat sendiri. Semalam saya ke sana (Polrestabes Medan) mau melihat gak boleh. Makanan yang saya bawa aja yang dikasihkan. Saya minta tolong mau melihat aja dari jauh sebentar aja gak boleh,” kata Dumaria.

“Tadi pas saya datang, tadi saya dikasih tahu suami saya di rumah sakit katanya sakit. Jadi ini kami sendiri yang datang kemari. Kami minta tolong sama pihak RS Bhayangkara untuk pun tidak boleh,” kata Dumaria.

Firasatnya Dumaria sudah tak karuan. Dia lalu berkeliling di Rumah Sakit Bhayangkara untuk mengetahui keberadaan suami.

Namun dia Syok, saat melihat beberapa orang pegawai RS Bhayangkara sedang mendorong bangsal jenazah.

Dia melihat wajah jenazah itu adalah suami dari 5 anaknya.

“Tadi ketahuan las lewat, saya nampak suami saya digotong. Saya lihat wajahnya iya itu suami saya. Sdah meninggal. Saya lihat udah lebam-lebam, badan biru-biru, dadanya juga,” lanjutnya.

Dumaria mengatakan sebelum ditahan polisi sang suami dalam kondisi sehat.

Dia pun yakin suaminya dianiaya dan disiksa saat berada dalam waktu ditahan polisi.

“Saya gak tahu di mana suami saya dipukuli. tapi kondisi suami saya waktu dibawa ke Polres gak begitu (lebam dna luka), suami saya sehat. Setelah meninggal saya lihat semuanya lebam-lebam, biru,” ujarnya.

Dumaria tidak terima. Dia akan menuntut keadilan ke Polda Sumut.

“Saya minta seadil-adilnya. karena suami saya pas dibawa baik-baik aja. tapi kenapa pas meninggal suami saya dalam kondisi lebam-lebam biru biru?,” ujarnya histeris memeluk jasad suaminya.

Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Gidion Arif Setyawan belum bersedia menjelaskan perihal dugaan penganiayaan tahanan di Polrestabes Medan yang berujung kematian.

Ditemui di Medan, Gidion mengatakan belum dapat memberikan keterangan apa pun mengenai peristiwa tersebut.

Pihaknya lanjut Gidion, masih mendalami peristiwa tersebut.

“Bentar, saya masih butuh waktu sebentar. saya nanti akan jelaskan supaya tidak putus-putus. biar sedikit komprehensif lah biar saya lihat dulu,” ujarnya kepada awak media yang bertugas.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kecelakaan Fatal tertimpa Menara Rig, Satu Karyawan PT Arthindo Utama Tewas Dua Patah Pinggang
Pekerjaan Perbaikan Prasarana Diskeporapar Berjalan Sesuai Rencana
Proyek pelebaran jembatan jetis Adiwerna tepat waktu dan sesuai rencana
LSM ​​Gerhana Indonesia Resmi Serahkan Laporan Dugaan Pelanggaran Juknis Program RTLH 2025 ke Kejari Slawi
P3-TGAI Diambil Alih Kades, Gerhana Indonesia Siap Surati BBWS Bongkar Dugaan Penyimpangan
Pemerintah Kecamatan Mandau Gandeng Densus 88 Perkuat Upaya Pencegahan Radikalisme pada Anak dan Remaja
Proyek prasarana Dinas kepemudaan, olah raga dan pariwisata banyak sorotan dari berbagai masyarakat
Kurangnya perhatian pemerintahan propinsi Riau terhadap jl lintas Duri_Dumai di Duri tigabelas kec Banshol kab. Bengkalis

Berita Terkait

Sabtu, 29 November 2025 - 22:43 WIB

Kecelakaan Fatal tertimpa Menara Rig, Satu Karyawan PT Arthindo Utama Tewas Dua Patah Pinggang

Sabtu, 29 November 2025 - 14:40 WIB

Pekerjaan Perbaikan Prasarana Diskeporapar Berjalan Sesuai Rencana

Sabtu, 29 November 2025 - 14:35 WIB

Proyek pelebaran jembatan jetis Adiwerna tepat waktu dan sesuai rencana

Jumat, 28 November 2025 - 12:52 WIB

LSM ​​Gerhana Indonesia Resmi Serahkan Laporan Dugaan Pelanggaran Juknis Program RTLH 2025 ke Kejari Slawi

Jumat, 28 November 2025 - 01:06 WIB

Pemerintah Kecamatan Mandau Gandeng Densus 88 Perkuat Upaya Pencegahan Radikalisme pada Anak dan Remaja

Berita Terbaru